Di Balik Fenomena Laki-Laki Berotot

 

Tubuh berotot merupakan dambaan banyak laki-laki di dunia ini. Namun, tahukah Anda tentang sebuah fenomena di balik laki-laki berotot tersebut? Simak pembahasan oleh dr. Nadia Octavia berikut ini.

 

Saat ini, terutama yang tinggal di kota-kota besar, banyak laki-laki yang tergerak dan mulai sadar diri untuk membentuk tubuhnya. Gym dan pusat olahraga lainnya pun sebagian besar didatangi oleh laki-laki.

Anda yang perempuan tentu juga ikut senang bila melihat pasangan Anda memiliki badan yang bagus dan berotot.

Namun, hati-hati lho, terlalu terobsesi memiliki badan yang berotot bisa jadi merupakan tanda dari bigorexia.

Yuk kita kenal lebih jauh mengenai bigorexia.

Apa itu bigorexia?

Bigorexia atau muscle dysmorphia merupakan suatu gangguan cemas yang menyebabkan seseorang melihat dirinya sendiri memiliki badan yang kecil atau kurang bagus, padahal justru sebaliknya.

Bigorexia merupakan suatu preokupasi pikiran dengan berpikir bahwa ia tidak cukup berotot atau memiliki otot yang kurang besar.

Apa saja gejala bigorexia?

  • Berolahraga secara kompulsif
  • Olahraga berlebihan di gym
  • Penggunaan steroid anabolik
  • Sering bercermin secara berlebihan untuk melihat tubuhnya
  • Penyalahgunaan suplemen dan terus-menerus mengonsumsi minuman berprotein tinggi
  • Mudah tersinggung dan cenderung temperamental
  • Depresi dan maniak
  • Panik dan khawatir saat tidak dapat datang ke gym/pusat olahraga
  • Tetap berolahraga di saat cedera
  • Memprioritaskan waktu untuk berlatih atau berolahraga ketimbang untuk melakukan kehidupan sosial

Berapa banyak laki-laki yang mengalami bigorexia?

Berdasarkan penelitian, sekitar 10% laki-laki yang berada di gym mengalami hal ini. Namun, hal ini sering kali luput dari diagnosis karena kesadaran yang minim. Orang yang mengalami hal ini biasanya akan sangat peduli secara berlebihan mengenai penampilan tubuhnya, rasa percaya diri yang rendah, mudah cemas dan khawatir. Bahkan, pada beberapa kasus dapat mengarah ke depresi karena merasa dirinya tidak berharga dan dapat berujung pada bunuh diri.

Apa yang menyebabkan bigorexia?

Departemen kesehatan Inggris menyebutkan bahwa bigorexia dapat disebabkan oleh gangguan genetik atau bisa juga karena ketidakseimbangan kimia di otak. Selain itu permasalahan atau pengalaman hidup juga bisa menjadi faktor pencetusnya, misalnya orang tersebut dulunya sering diejek, dihina atau dilecehkan.

Kondisi ini memang lebih umum dialami oleh laki-laki karena masyarakat banyak yang berpikir bahwa laki-laki perlu terlihat sukses, berkuasa dan menarik. Selain itu, gaya hidup masyarakat urban saat ini juga dapat mendorong perilaku tersebut dan memberikan tekanan pada laki-laki untuk terlihat berotot dan membentuk badan yang six pack.

Leave a Comment