Daging Ular untuk Terapi Medis ????

 

Banyak orang yang beranggapan bahwa daging ular dapat digunakan sebagai terapi medis. Namun, bagaimana sebenarnya penggunaan daging ular untuk terapi medis ditinjau dari sisi kedokteran? Berikut ulasannya.

 

Apakah di lingkungan Anda terdapat tradisi penggunaan daging ular untuk terapi medis? Kepercayaan yang meyakini khasiat daging ular untuk terapi medis bukanlah hal baru, justru telah berlangsung lebih dari puluhan tahun.

Bukan hanya di Indonesia, di negara lain, seperti Cina hingga Amerika Selatan mengonsumsi daging ular, dan sebagian orang yang mengonsumsi daging ular ini mengemukakan pendapat bahwa mereka mengonsumsi daging ular untuk terapi medis.

Beberapa manfaat kesehatan yang sering dihubung-hubungkan dengan daging ular misalnya adalah pengobatan untuk penyakit kulit menahun, radang sendi, kejang, lumpuh, lemah syahwat, penurunan libido, dan penyakit lupus.

Namun demikian, ada baiknya Anda menunda dulu niat penggunaan daging ular untuk terapi medis. Pasalnya, dari hasil penelusuran berbagai penelitian kedokteran, manfaat yang disebutkan di atas belum terbukti benar adanya.

Daging ular secara kasar mengandung 93 kalori per 100 gram. Kandungan kalori pada daging ular tersebut hampir setengah dari jumlah kalori yang dikandung daging steak sirloin. Selain itu, kadar lemak jenuh daging ular tersebut juga diketahui sepertiga dari kadungan lemak jenuh pada daging steak.

Apakah dengan kandungannya yang sekilas tampak lebih baik daripada daging biasa, maka daging ular berkhasiat ketika dikonsumsi? Sayangnya, seperti yang dinyatakan di atas, belum ada penelitian kedokteran yang dapat mengonfirmasi khasiat kesehatan terkait penggunaan daging ular untuk terapi medis.

Dari hasil penelurusan sumber jurnal kedokteran yang sahih (International Journal of Food Microbiology), justru ditemukan bahwa daging ular kerap mengandung sejumlah jenis kuman yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Kuman apa yang dimaksud? Berikut penjelasannya:

  1. Salmonella

Bakteri ini berkaitan dengan penyakit tifoid dan paratifoid, suatu infeksi berat saluran cerna. Gejala yang muncul berupa demam, menceret/konstipasi, muntah, lidah kotor, dan bila gejala penyakit begitu berat dapat menyebabkan gangguan hati hingga kematian.

Salah satu laporan kasus di Amerika pada tahun 1989 memberitakan bahwa seorang wanita yang berusaha mengobati penyakit lupus yang dideritanya dengan mengonsumsi daging ular mentah yang dikeringkan justru mengalami infeksi Salmonella Arizona yang fatal hingga berujung pada kematian

  1. Escherichia coli

Bakteri ini berkaitan dengan diare, nyeri perut, mual dan muntah. Bakteri ini berperan dalam pembusukan sisa makanan manusia dan keluar bersama kotoran.

  1. Clostridium

Clostridium tetani merupakan bakteri yang terkait dengan penyakit tetanus. Gejala penyakit tetanus berupa tubuh kaku, kontraksi otot yang tidak terkoordinasi, hingga kejang dan dapat menyebabkan kematian.

  1. Shigella, Yersinia, dan Campylobacter

Jenis bakteri shigella dysentriae, yersinia enterocolitica, dan campylobacter jejuni merupakan penyebab menceret cair disertai darah, nyeri perut, serta mual dan muntah, kadang disertai dengan demam. Selain itu, campylobacter jejuni juga dikaitkan dengan penyakit Guillain-Barre Syndrome, atau penyakit dengan gejala utama kelumpuhan.

  1. Spirometra

Jenis cacing ini menyebabkan penyakit sparganosis. Dari penelitian selama 8 bulan di pasar

Di cina, kasus sparganosis menyerang orang-orang yang mengonsumsi daging ular dan katak mentah/tidak matang, meminum empedu dan darah ular. Selain menimbulkan gejala gastrointestinal, larva cacing ini diketahui dapat mencapai organ lain, contohnya otak.

Berdasarkan temuan kuman yang bisa dijumpai pada daging ular, maka dapat dikatakan bahwa mengonsumsi daging ular tanpa kewaspadaan tinggi justru dapat berakibat munculnya penyakit-penyakit yang berat, dan sebagian penyakit tersebut dapat berakhir pada kematian. Terlebih lagi, bila daging ular tersebut tidak dimasak dengan sempurna, ataupun daging ular yang masih mentah, tentunya kemungkinan terinfeksi jenis-jenis kuman yang disebutkan di atas menjadi semakin besar.

Oleh sebab itu, mengingat risiko terhadap kesehatan yang tidak kecil, sementara manfaat kesehatannya juga masih belum terbukti, rekomendasi penggunaan daging ular untuk terapi medis tampak tidak berdasar, dan sebaiknya hal ini dihindari demi menjaga kesehatan Anda.

Leave a Comment