Bahaya Konsumsi Obat Sakit Kepala dan Obat Rematik Sembarangan

 

Obat sakit kepala dan obat rematik merupakan obat yang sering kali dikonsumsi tanpa adanya resep dari dokter. Kenali bahaya mengonsumsi obat sakit kepala dan obat rematik secara sembarangan

 

Obat sakit kepala dan obat rematik – istilah umum bagi obat yang digunakan untuk menghilangkan nyeri sendi – adalah dua macam obat yang sering dikonsumsi oleh masyakarat.

Tidak jarang, kedua obat tersebut dibeli secara bebas tanpa adanya resep dari dokter. Padahal, berbagai efek samping mungkin saja timbul akibat penggunaan obat yang tidak terukur, terlebih efek samping dalam jangka panjang.

Efek samping yang sering kali timbul akibat konsumsi obat-obatan tersebut secara tidak terukur adalah luka lambung dan usus 12 jari.

Apakah Anda pengguna rutin obat sakit kepala dan obat rematik? Pernahkah Anda merasakan gejala berupa nyeri ulu hati, mual, muntah, penurunan berat badan, maupun diare? Ataukah justru Anda pernah mengalami muntah hitam/muntah berdarah?

Perlu Anda ketahui, luka lambung dan usus 12 jari dalam bahasa medis disebut sebagai tukak. Tukak adalah kondisi terganggunya permukaan lapisan lambung maupun usus 12 jari akibat luka yang cukup dalam. Tukak adalah luka yang lebih berat dari sekedar lecet/erosi dinding permukaan suatu organ. Penderita akan merasakan gejala nyeri ulu hati disertai mual/muntah, penurunan berat badan, dan terkadang dapat menyebabkan diare.

Sulit untuk membedakan tukak lambung dan usus 12 jari hanya dari gejala. Namun, nyeri yang justru timbul 90 menit hingga 3 jam pasca makan, disebutkan memiliki ciri yang lebih khas pada tukak usus 12 jari.

Mengapa penggunaan obat sakit kepala dan obat rematik dalam jangka panjang dan tanpa pengaturan yang tepat dapat menyebabkan tukak? Hal ini disebabkan karena umumnya obat sakit kepala dan rematik yang digunakan adalah golongan obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS) yang memiliki cara kerja menghambat produksi suatu zat yang disebut Prostaglandin.

Dengan menghambat prostaglandin, maka rasa nyeri (akibat sakit kepala maupun sakit sendi) dapat menghilang. Namun di satu sisi, prostaglandin sangat penting untuk menjaga integritas permukaan dinding lambung dan usus 12 jari. Selain itu, prostaglandin juga penting untuk perbaikan sel-sel lambung yang telah rusak.

Hasilnya dapat ditebak, penggunaan jangka panjang akan sangat mengganggu kestabilan permukaan dinding lambung dan usus 12 jari hingga pada akhirnya terjadi luka.

Contoh obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS) generasi pertama yang masih banyak disalahgunakan di Indonesia adalah asam mefenamat, natrium diklofenak, kalium diklofenak, piroksikam, dan aspirin.

Faktanya, obat-obat yang tergolong dalam obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS) generasi pertama termasuk sebagai salah satu penyebab terbanyak tukak lambung dan usus 12 jari di Indonesia.

Hal ini disebabkan karena masih banyak praktik penggunaan obat secara bebas dan tidak terpantau oleh dokter. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlangsung berlarut-larut. Pasalnya, akibat berupa tukak lambung saja akan sangat mengganggu kenyamanan penderita, belum lagi kemungkinan terjadinya komplikasi lain yang lebih berat di masa mendatang – seperti perdarahan (ditandai dengan muntah kehitaman), bocornya dinding saluran cerna (perforasi), hingga penyumbatan lambung dan usus 12 jari.

Kesimpulannya, bila Anda merasakan gejala tukak lambung dan memiliki riwayat penggunaan obat sakit kepala dan obat rematik dalam jangka panjang, segeralah hentikan penggunaan obat tersebut. Kunjungilah dokter untuk menangani tukak yang Anda derita dan konsultasikan juga mengenai pemilihan obat sakit kepala dan obat rematik pengganti yang lebih aman untuk Anda.

Di samping itu, pastikan juga diri Anda untuk menghindari praktik penggunaan obat bebas secara sembarangan, terutama untuk obat yang diperlukan dalam jangka panjang.

Leave a Comment